Gerbang Jam 3 dan Bisikan dari Loteng


Di sebuah desa kecil yang dikelilingi hutan lebat, berdiri sebuah rumah tua bernama Rumah Salemba. Rumah itu sudah lama kosong, ditinggalkan setelah serangkaian peristiwa mengerikan. Konon, siapa pun yang menginap di sana akan mendengar bisikan dari loteng — suara-suara dari mereka yang terjebak antara dunia hidup dan mati.


Raka, seorang pemuda yang tidak percaya takhayul, menantang dirinya sendiri untuk bermalam di sana. Malam itu, ia hanya membawa senter, air minum, dan sebuah buku.


Saat matahari terbenam, angin mulai bertiup lebih kencang. Pintu tua berderit saat Raka mendorongnya terbuka, dan bau kayu lapuk serta tanah basah segera menyergap hidungnya.


Malam pertama berlalu.


Hingga pukul dua dini hari, saat suara itu mulai terdengar — bisikan dari loteng.


"Tolong... tolong aku..."

"Naiklah ke atas..."


Dengan senter bergetar di tangan, Raka memanjat tangga tua ke loteng. Di sana, hanya ada debu, sarang laba-laba, dan sebuah cermin besar yang retak di tengah. Saat mendekat, Raka melihat pantulan dirinya... yang tersenyum aneh, menampilkan gigi-gigi tajam.


"Sekarang... giliranku..."


Sebuah kekuatan yang tak terlihat menarik Raka ke dalam cermin. Ia berteriak, tetapi suara itu tertelan kegelapan. Tubuhnya hilang — dan hanya bayangannya yang tertinggal di dalam cermin, diketuk-ngetuk kaca, memohon untuk dibebaskan.


**


Seminggu kemudian, adik sepupu Raka, Maya, menerima pesan suara misterius dari nomor tak dikenal.

Suara itu lirih, penuh statistik:


"Maya...jangan cari aku...gerbang...sudah terbuka..."


Maya tahu, ini pasti ada kedamaian dengan hilangnya Raka. Dan malam itu juga, dia memutuskan mencari jawaban. Tapi yang tidak Maya tahu, malam itu bertepatan dengan Jumat Kliwon.


Dan jam digital di ponselnya... menunjukkan 02:58 pagi.


**


Maya membawa motor orang tuanya dan melaju menuju jalan Pusara — jalur pendek yang melintasi area pemakaman tua, tempat di mana desas-desus tentang "gerbang dunia lain" sering terdengar. Dia melewati suatu wilayah, mencoba menahan ketakutan yang ada.


03:00 pagi.

Motor Maya mati mendadak.


Dari balik kabut, siluet-siluet hitam mulai bermunculan, mata kosong, tubuh mereka bergerak aneh seperti boneka rusak.


Maya gemetar. Dia berlari, meninggalkan motornya, mencari perlindungan. Ia menemukan sebuah rumah tua di pinggir jalan — Rumah Salemba.


**


Dengan senter redup, Maya mendorong pintu rumah itu. Bau busuk lebih kuat dari sebelumnya. Di dinding-dingin, jejak tangan berdarah membentuk pola aneh, seperti menuntun Maya ke loteng.


Di puncak tangga, dia melihat cermin tua yang retak — cermin yang pernah menelan Raka.


Tiba-tiba, dari pantulan cermin, Maya melihat Raka.

Tapi bukan Raka yang ia kenal — sosoknya pucat, matanya hitam, dan mulutnya terus berbisik:


"Tutup... gerbang... sebelum mereka masuk..."


Sebelum Maya bisa bergerak, dari balik cermin, tangan kurus menunjukkan keluar, mencoba meraih tubuhnya. Maya mengeluarkan cermin kecil peninggalan neneknya, yang selalu dia bawa sebagai jimat.


Ia mengangkat cermin kecil itu ke arah cermin besar.

Menimbulkan cahaya meletup, membakar tangan-tangan kotor itu. Rumah berguncang keras, dan dari luar, suara-suara erangan mengerikan terdengar — gerbang sedang tertutup!


Tapi belum berakhir.


**


Saat Maya terbangun, ia sudah berada di rumah sakit, dikelilingi keluarga dan polisi. Mereka bilang dia pingsan di jalan Pusara, dan ditemukan dengan luka-luka kecil.


Namun, ponselnya — yang sudah dikembalikan — berisi satu foto baru.

Dalam foto itu, ia berdiri di depan gerbang hitam yang hampir tak terlihat oleh mata manusia, diiringi sosok sosok hitam.


Dan di belakang bahunya, dengan muncul kosong dan senyum mengerikan, Raka berdiri... menunggu.


Sejak saat itu, Maya tahu:

Bisikan dari loteng bukan hanya pertanda,

Gerbang jam 3 bukan hanya mitos,

dan mereka belum selesai mencarinya.



---


[Tamat]


Jika ingin ada lanjutan ramekan postingan ini


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah hidupku

Manfaat Berorganisasi